Showing posts with label Psikiatri. Show all posts
Showing posts with label Psikiatri. Show all posts

Tuesday, October 12, 2010

OBAT ANTI-ANXIETAS


I. Penggolongan
1. Benzodiazepine
- Diazepam (Valium, Mentalium, Lovium)
- Chlordiazepoxide (Arsitran, Cetabrium)
- Bromazepam (Lexotan)
- Lorazepam (Ativan, Renaquil, Merlopan)
- Prazepam (Equipax)
- Oxazolam (Serenal-10)
- Alprazolam (Xanax, Alganax, Calmlet)
- Clorazepate (Tranxene)
- Clobazam (Frisium)
2. Non-Benzodiazepine
- Buspirone (Buspar, Tran-Q, Xiety)
- Sulpiride (Dogmatil-50)
- Hydroxyzine (Iterax)

II. Sediaan obat anti-anxietas dan dosis anjuran
No Nama Generik Nama Dagang Sediaan Dosis Anjuran
1. Diazepam Diazepin
Lovium
Mentalium
Paralium

Prozepam
Stesolid



Trankinon
Validex
Valisanbe
Valium
Tablet 2 - 5 mg
Tablet 2 - 5 mg
Tablet 2 - 5 - 10 mg
Tablet 2 - 5 mg
Ampul 10 mg/2 cc
Caplet 2 - 5 mg
Tablet 2 - 5 mg
Ampul 10 mg/2 cc
Rectal tube 5mg/2,5cc
10mg/2,5cc
Tablet 2 - 5 mg
Tablet 2 - 5 mg
Tablet 2 - 5 mg
Tablet 2 - 5 mg
Ampul 10 mg/2 cc Oral
10-30 mg/hari
2-3 x sehari

Parenteral IV/IM
2-10 mg per kali
setiap 3-4 jam

< 10 kg/bb = 5 mg
> 10 kg/bb = 10 mg
2. Chlordiazepoxide Cetabrium
Arsitran
Tensinyl Drg 5 - 10 mg
Tablet 5 mg
Caplet 5 mg 15-30 mg/hari
2-3 x sehari
3. Lorazepam Ativan
Renaquil
Merlopam Tablet 0,5 - 1 - 2 mg
Tablet 1 mg
Tablet 0,5 - 2 mg 2-3 x 1 mg/hari
4. Clobazam Tablet 10 mg
Tablet 10 mg 2-3 x 10 mg/hari
5. Bromazepam Lexotan Tablet 1,5 - 3 - 6 mg 3 x 1,5 mg/hari
6. Oxazolam Serenal-10 Drg 10 mg 2-3 x 10 mg/hari
7. Clorazepate Tranxene 5-10 Caplet 5 - 10 mg 2-3 x 5 mg/hari
8. Alprazolam Xanax
Alganax
Calmlet
Feprax
Frixitas Tablet 0,25 - 0,5 - 1 mg
Tablet 0,25 - 0,5 - 1 mg
Tablet 0,25 - 0,5 - 1 mg
Tablet 0,25 - 0,5 - 1 mg
Tablet 0,25 - 0,5 - 1 mg
9. Prazepam Equipax Tablet 5 mg 2-3 x 5 mg/hari
10. Sulpiride Dogmatil Caplet 50 mg
11. Buspirone Buspar
Tran-Q
Xiety Tablet 10 mg
Tablet 10 mg
Tablet 10 mg
12. Hydroxyzine Iterax Caplet 25 mg 3 x 25 mg/hari

III. Indikasi penggunaan
SINDROM ANXIETAS
- Adanya perasaan cemas atau khawatir yang tidak realistik terhadap dua atau lebih hal yang dipersepsi sebagai ancaman, perasaan ini menyebabkan individu tidak mampu istirahat dengan tenang
- Terdapat paling sedikit 6 dari 18 gejala-gejala berikut
1. Kedutan otot atau rasa gemetar
2. Otot tegang/kaku/pegal linu
3. Tidak bisa diam
4. Mudah menjadi lelah
5. Nafas pendek/terasa berat
6. Jantung berdebar-debar
7. Telapak tangan basah-dingin
8. Mulut kering
9. Kepala pusing/rasa melayang
10. Mual, mencret, perut tak enak
11. Muka panas/badan menggigil
12. Buang air kecil lebih sering
13. Sukar menelan/rasa tersumbat
14. Perasaan jadi peka/mudah ngilu
15. Mudah terkejut
16. Sulit konsentrasi pikiran
17. Sikar tidur
18. Mudah tersinggung
- Hendaya dalam fungsi kehidupan sehari-hari, bermanifestasi dalam gejala penurunan kemampuan bekerja, hubungan sosial dan melakukan kegiatan rutin
IV. Efek Samping
Efek samping obat anxietas dapat berupa:
• sedasi(rasa mengantuk, kewasapadaan berkurang, kinerja psikomotor menurun, kemampuan kognitif melemah)
• relaksasi otot (rasa lemas, cepat lelah)
Potensi menimbulkan ketergantungan lebih rendah dari narkotika. Potensi menimbulkan ketergantungan obat disebabkan oleh efek obat yang masih dapat dipertahankan setelah dosis terakhir, berlangsung sangat singkat. Penghentian obat secara mendadak akan menimbulkan gejala putus obat (rebound phenomena), yaitu pasien menjadi iritabel, bingung,gelisah, imsomnia, termor, palpitasi, keringat dingin, konfulsi, dan lain-lain.hal ini berkaitan dengan penurunan kadar benzodiazepin dalam plasma.
Untuk obat benzodiazepin dengan waktu paruh pendek lebih cepat dan hebat gejala putus obatnya dibandingkan dengan obat benzodiazepin dengan waktu paruh panjang. Misalnya clobazam, sangat minimal dalam menimbulkan gejala putus obat. Benzodiazepin tidak dianjurkan diberikan kepada pasien-pasien yang memiliki riwayat peminum alkohol, penyalahgunaan obat, atau unstable personality karena sering menimbulkan ketergantungan relatif. Untuk mengurangi resiko ketergantungan obat maksimum lama pemberian 3 bulan (100 hari) dalam rentang dosis terapeutik

V. Interaksi obat
• Benzodiazepin + CNS depresan (phenobarbital, alkohol, obat anti psikosis, antidepresi, opiat)  potensiasi efek sedasi dan penekanan pusat nafas, resiko timbulnya respiratory failure.
• Benzodiazepin +CNS Stimulans (amphetamin, caffein, appetite supresan )= antagonisme efek antianxietas, sehingga efek benzodiazepin menurun.
• Benzodiazepin +neuroleptika = manfaat efek klinis dari benzodiazepin mengurangi kebutuhan dosis neuroleptika, sehingga resiko efek samping neuroleptika mengurang.
VI. Cara penggunaan
Pemilihan obat
a Golongan benzodiazepin sebagai obat anti anxietas mempunyai rasio terapeutik lebih tinggi dan lebih kurang menimbulkan addiksi dengan toksisitas yang rendah, dibandinkan dengan mepromabate atau phenobarbital. Disamping itu phenobarbital menginduksi enzim mikrosomal dihepar, sedangkan golongan benzodiazepin tidak.
b Golongan benzodiazepin merupaqkan drug of choise dari semua obat yang empunyai efek anti anxietas disebabkan spesifisitas, potensi dan keamanannya.
c Spektrum klinis benzodiazepin meliputi efek anti anxietas, antikonvulsan, antiinsomnia, premedikasi tindakan operatif
- Diazepam / chordiazepoxide : broadsprektrum
- Nitrazepam/ flurazepam : dosis anti anxietas dan anti imsomnia berdekatan (none dose related), lebih efektif sebagai anti insomnia
- Midazolam : onset cepat dan kerja singkat, sesuai kebutuhan untuk premedikasi tindakan operatif
- Bromazepam, lorazepam, clobazam : dosis anti anxietas dan anti insomnia berjauhan (dose related), lebih efektif sebagai anti anxietas.
Pengaturan dosis
Mulai dengan dosis awal (dosis anjuran)  naikan dosis setiap 3 -5 hari sampai mencapai dosi optimal  dipertahankan 2-3 minggu  diturunkan 1/8 kali setiap 2- 4 minggu  dosis minimal yang masih efektif (maintenance dose) bila kambuh di naikkan lagi dan bila tetap efektif perthankan 4-8 minggu  tapering off.
Lama pemberian
- Pada sindrom anxietas yang disebabkan faktor situasi external pemberian obat tidak lebih dari 1-3 bulan.
- Pemberian yang sewaktu-waktu dapat dilakukan apabila sindrom anxietas dapat diramalkan waktu datangnya dan hanya pada situasi tertentu serta terjadinya tidak sering.
- Penghentian selalu secara bertahap agar tidak menimbulkan gejala lepas obat (withdrawal symptom)
Perhatian Khusus
- Kontra indikasi : pasien dengan hipersensitif terhadap benzodiazepin, glaukoma, miastenia gravis, pulmonari insufisiensi kronik, kronik renal failure, atau penyakit hati.
- Gejala overdosis / intoksikasi
a Kesadaran menurun , lemas, jarang yang sampai koma.
b Pernafasan , tekanan darah, dan denyut nadi turun sedikit.
c Ataxia, disartria, confusion, refrlek fisiologis menurun.
- Tidak ada kematian pada diazepam sampai dengan 1400 mg dan chlorazepokside 6000 mg.
- Efek teratogenik khususnya pada trimester I berkaitan dengan obat golongan benzodiazepin yang dapat melewati plasenta dan mempengaruhi janin. Pemberian obat golongan benzodiazepin pada saat persalinan khususnya dosis tinggi harus dihindarkan karena dapat menyebabkan hipotonia, penekanan pernapasan, dan hipotermi pada anak yang dilahirkan.
- Pada penderita usia lanjut dan anak dapat terjadi reaksi yang berlawanan (paradoxical reaction) berupa kegelisahan, intabilitas, disinhibisi, spastisitas otot meningkat dan gangguan tidur.

Monday, October 4, 2010

Gangguan Waham



1. Pengertian

Gangguan waham adalah satu gangguan psikiatri yang didominasi oleh gejala-gejala waham. Waham pada gangguan waham bisa berbentuk: kebesaran, penganiayaan, cemburu, somatic, atau campuran.
Waham merupakan suatu keyakinan atau pikiran yang salah karena bertentangan dengan kenyataan (dunia realitas), serta dibangun atas unsur-unsur yang tak berdasarkan logika, namun individu tidak mau melepaskan wahamnya walaupun ada bukti tentang ketidakbenaran atas keyakinan itu. Keyakinan dalam bidang agama dan budaya tidak dianggap sebagai waham.

2. Epidemiologi
Prevalensi gangguan waham di Amerika Serikat diperkirakan 0,025 sampai 0,03 persen.gangguan waham lebih jarang dari pada skizofrenia dan gangguan afektif. Usia onset kira-kira 40 tahun, rentang usia untuk onset dari 18 tahun sampai 90 tahunan, terdapat lebih banyak pada wanita

3. Etiologi
Penyebab sebenarnya tidak diketahui.ada beberapa factor:
a. Factor biologi:
• Penyakit fisik (misal: tumor otak)
• Kelainan neurologic (system limbic dan ganglia basalis)
b. Factor psikodinamik:
• Isolasi sosial
• Hipersensitif (reaksi farmasi, proyeksi dan denial)

4. Diagnosis
Pedoman diagnostik gangguan waham (F22.0)
• Waham-waham merupakan satu-satunya ciri khas klinis atau gejala yang paling mencolok. Waham-waham tersebut (baik tunggal maupun sebagai suatu system waham) harus sudah ada sedikitnya 3 bulan lamanya, dan harus bersifat khas pribadi (personal) dan bukan budaya setempat
• Gejala-gejala depresif atau bahkan suatu episode depresif yang lengkap mungkin terjadi secara intermitten, dengan syarat bahwa waham-waham tersebut menetap pada saat-saat tidak terdapat gangguan afektif itu
• Tidak boleh ada bukti-bukti tentang adanya penyakit otak
• Tidak boleh ada halusinasi auditorik atau hanya kadang-kadang saja ada dan bersifat sementara
• Tidak ada riwayat gejala-gejala skizofrenia (waham dikendalikan, siaran pikiran, penumpulan afek, dsb)

Waham dapat berbentuk:
a. Waham yang sistematik
Yaitu waham yang sesudah dianalisis, memperlihatkan suatu pola sentral tertentu yang kemudian dibesar-besarkan atau ditambah-tambah secara rapi menjadi sistematik. Walaupun unsur-unsur dasarnya salah dan tak logis, akhirnya diperoleh suatu waham yang telah terbentuk dan berkembang secara konsekuen
b. Waham yang non sistematik
Waham yang bekembang secara luas, tetapi tidak memperlihatkan suatu pola sentral tertentu
c. Waham kebesaran (delusi megaloman)
Waham yang ekspansif, hendak meyakinkan orang tentang kebesaran daripada individu bersangkutan (seperti jadi tuhan, presiden, panglima besar, dan sebagainya)
d. Waham kehinaan (delusi nihilistic)
Waham yang hendak meyakinkan orang tentang sifat hina diri, rendah, miskin, hampa, sia-sia dan sebagainya daripada individu yang bersangkutan, hal yang mana sama sekali bertentangan dengan kenyataan
e. Waham tuduhan diri
Keyakinan berdosa dan bersalah yang irrealistik dan irrasional. Konsekuensinya adalah kepercayaannya bahwa sudah selayaknya ia harus dihukum berat atau menjalani hukuman mati sekalipun
f. Waham kejaran (delution of persecution)
Waham individu itu senantiasa dikejar-kejar oleh orang atau sekelompok yang bermaksud berbuat jahat kepadanya
g. Waham sindiran
Waham bahwa individu yang bersangkutan itu selalu disindir oleh orang-orang disekitarnya. Biasanya individu yang memiliki waham sindiran itu mencari-cari hubungan antara dirinya dengan individu-individu sekitarnya yang bermaksud menuduh atau menyindir hal-hal yang tak senonoh kepada dirinya

Ada beberapa tambahan jenis-jenis gangguan waham:
a. Erotomania: waham cinta, biasanya terhadap orang-orang terkenal (bintang film, pejabat)
b. Kebesaran (megalomania): punya kelebihan, kekuatan, kekuasaan; penemuan penting; waham keagamaan (pemimpin umat, nabi)
c. Cemburu: paranoia, lebih sering pada laki-laki
d. Penganiayaan: paling sering; pemarah, benci, menyakiti
e. Somatik: dikenal sebagai psikosis hipokondriakal monosimptomatik; sering infeksi (bakteri, virus, parasit); dysmorphofobia (bentuk tidak serasi pada hidung dan dada); bau badan (kulit, mulut, vagina, dsb)

Gangguan afektif dibedakan dengan gangguan waham. Gangguan mood bisa sejalan dengan wahamnya, tapi gangguan waham tidak menunjukkan gejala afektif yang menetap seperti pada gangguan mood

5. Gambaran Klinis
Status mental
• Deskripsi umum
Orang dengan gangguan waham biasanya berdandan dengan baik dan berpakaian baik, tanpa adanya bukti adanya disintegrasi nyata pada kepribadian atau aktivitas harian .Tetapi mungkin saja terlihat eksentrik, aneh, pencuriga, atau bermusuhan
• Mood, perasaan dan afek
Mood penderita gangguan waham konsisten dengan isi wahamnya. Seorang poenderita dengan waham kebesaran adalah euphoria, seoraang penderita dengan waham kejar adalah pencuriga
• Gangguan persepsi dengan gangguan waham tidak memiliki halusinasi yang menonjol atau menentap. Menurut DSM-IV waham raba tau cium mungkin ditemukan jika hal tersebut adalah konsisten dengan waham, sebagai contohnya wahan aromatik tentang bau badan
• Pikiran
Gangguan pikiran pada waham merupakan gejala utama dari gangguan waham biasanya sistematis dan karakteriatiknya adalah dimungkinkan.
Sensorium dan kognisi
• Orientasi
Penderita dengan gangguan waham tidak memiliki kelainan dalam orientasi kecuali pada mereka yang memiliki waham spesifik tentang orang, tempat dan waktu
• Daya ingat
Daya ingat dan kondisi kognitif lainnya adalah intak pada pasien dengan gangguan waham
• Kejujuran
Penderita dengna gangguan waham biasanya dapat dipercaya informasinya,kecuali jika hal tersebut membahayakan wahamnya,

6. Differensial diagnosis
• Penyakit fisik dan neurologic sering disertai dengan waham (ganglia basalis, system limbic)
• Delirium
• Demensia
• Penyalahgunaan alcohol
• Malingering
• Skizofrenia
• Gangguan obsesif kompulsif, gangguan somatoform, dan gangguan kepribadian paranoid

7. Penatalaksanaan:
• Perawatan di rumah sakit dilakukan dengan tujuan:
a Pemeriksaan medis dan neurologis yang lengkap poada penderita untuk menentukan apakah terdapat kondisi medis nonpsikiatirik yang menyebabkan gangguan waham
b Kemampuan untuk pengandalian impuls kekerasan seperti bunuh diri dan membunuh
c Perilaku penderita yang telah mempengaruhi kemampuannya untuk berfungsi dala keluarga dan pekerjaannya
• Farmakoterapi
haloperidol, pimozide, lithium, carbamazepin, valproate, risperidon, clozail
• Psikoterapi

8. Prognosis
• 50% sembuh dengan pengobatan
• 20% pengurangan gejala
• 30% tidak ada perbaikan
• <25 % menjadi skizofrenia
• <10% menjadi gangguan mood

Factor yang berhubungan dengan prognosis yang baik
• Tingkat pekerjaan
• Penyesuaian fungsional yang tinggi
• Jenis kelamin (wanita)
• Onset sebelum usia 30 tahun
• Onset terjadi tiba-tiba
• Lama penyakit singkat
• Adanya factor pencetus
• Waham kejar, somatic dan erotic diperkirakan memiliki prognosi yang lebih baik daripada pasien dengan wahan kebesaarn dan cemburu.




DAFTAR PUSTAKA

1. Depkes, Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III.1995.Jakarta; depkes;120-122
2. Sadock, dkk. Sinopsis Psikiatri.1997.Jakarta; Bina aksara;757-770